Nama : Klyce Scott Fitzgerald
Visualisasi : Thomas sangster (has some problems with it)
Status darah : Pureblood
Keterangan Tambahan :
This character has been unregisted.
Denting-denting peralatan makan perak yang saling beradu terdengar dari ruang makan keluarga Fitzgerald yang didominasi warna kelabu. Sinar hangat matahari pagi di musim panas menerobos masuk dari tiap kaca bening yang menyajikan halaman berumput hijau di baliknya. Memberikan sedikit suasana cerah dalam kebisuan yang tak henti-hentinya terpeta dari pemandangan di sekitar meja makan itu. Aroma pie buah segar di atas piring menguar ke udara hingga mencapai bulu-bulu hidung dan merangsang saraf agar tergoda. Kepul-kepul halus juga terlihat bergoyang dari sana. Jelas masakan peri rumah itu terlihat begitu menggiurkan.
Dan di sana duduk seorang Fitzgerald junior –berkulit putih, mungil, dan manis– menyantap sarapan paginya dengan ekspresi datar. Di hadapan pemuda itu, terlihat wanita kurus berusia cukup muda tengah menyendokkan potongan-potongan pai-nya dengan amat lamban, yang tak lain dan tak bukan adalah ibunya sendiri. Wanita yang kecantikannya sedikit tertutupi oleh wajah lemah dan kuyu itu sebentar-sebentar akan berhenti mengunyah, mengerling gugup ke arah Fitzgerald junior, lalu berpindah pada sosok di sebelahnya sendiri, Fitzgerald Senior –yang juga merupakan suaminya– dan kemudian kembali melanjutkan kunyahan pai-nya dalam diam. Tak berani memecah suasana kaku yang timbul sedari mereka duduk di sana. Sementara Fitzgerald Senior tak menunjukkan tanda-tanda seujung mulut pun untuk mulai menggetarkan pita suaranya guna membuka sekadar percakapan kecil di tengah mereka.
Mereka sudah tahu akan apa yang belum lama ini mengganggu pikiran masing-masing.
Seekor burung hantu berwarna cokelat terang berkelepak masuk melalui beranda. Hanya satu kepala wanita muda yang sekilas mendongak penasaran, mengikuti gerak sang burung sampai di atas meja. Burung itu melayangkan surat beramplop cokelat muda ke atas kepala Fitzgerald junior yang tampak tidak terkejut dengan kejadian barusan. Pemuda itu sigap menangkap surat yang terbang tak beraturan di udara sebelum mendarat tepat di atas sarapan paginya. Dua kepala di hadapannya berhenti mengunyah dan mulai menaruh perhatian pada surat itu, sedangkan sang burung telah lenyap melaju ke angkasa raya. Rasanya segala aktivitas di meja itu akan berhenti sejenak.
“Hogwarts–– kukira?” tanya Fitzgerald Senior menatap pemuda itu tajam. Nadanya tidak terlalu bersahabat, namun lengkung senyum mengerikan terlukis di sana.
Anak itu balas menatapnya seberapa lama sementara jari-jarinya meniti amplop itu dan membukanya perlahan. Seakan terjadi perang badai salju di antaranya saat dua pasang manik tak serupa itu bertemu. Dua bola itu kembali bergulir membaca kepala surat berstempel Sekolah Sihir Hogwarts. Bersamaan dengan itu, mulut yang sedari tadi terkatup mulai membuka, mengucapkan satu kata yang ditunggu-tunggu. “Ya,” jawabnya singkat tanpa memandang siapa pun.
SEKOLAH SIHIR HOGWARTS
Kepala Sekolah: Albus Dumbledore(Order Of Merlin, Kelas Pertama, Penyihir Hebat, Kepala Penyihir, Konfederasi Sihir Internasional)
Mr. Fitzgerald yang baik, dengan gembira kami mengabarkan bahwa kami menyediakan tempat untuk Anda di Sekolah Sihir Hogwarts––
Dilipatnya kertas khas itu dan dimasukkannya kembali ke dalam amplop. Well, well. Tidak perlu-lah pemuda itu membaca isinya sampai akhir. Dia masih punya banyak waktu di kamar jika dia benar-benar setuju meninggalkan tempat ini nanti. Sebenarnya, dia sudah tahu bagaimana dirinya harus bertindak dan berpikir, namun terkadang mulut memang tak bisa dikontrol ––
“Haruskah?” gumamnya pelan, setengah ditujukan pada dirinya sendiri. Sang ibu agak terperanjat, dan cepat-cepat berpaling pada sarapannya lagi. Fitzgerald Senior mendelik pada pemuda itu, gusar. Sarapannya terhenti. “Slytherin–” ujarnya sembari tangannya meletakkan peralatan makan perak itu dengan rapi. “–adalah pilihan paling baik, jika kau masih ingin jadi penerus.” Pria bergaris muka tegas nan angkuh itu membenarkan setelan jasnya seraya berdiri. Bersiap-siap menuju kantor Kementrian Sihir, tempat dia bekerja. Dan, Fitzgerald muda hanya bisa menatap punggungnya dari kejauhan dengan penuh amarah tertahan.
”Ayahmu bermaksud baik. Turutilah kemauannya,” ibunya yang lemah dan tak berdaya itu baru berusaha menyenangkan putranya setelah pria itu pergi.
“Dia bukan Ayah-ku.”
“Tapi aku ibumu, dear.”
Bukannya pemuda itu tak mau menuntut ilmu persihiran di sekolah terkenal seantero Britania Raya. Dia hanya sedikit ragu meninggalkan ibunya dalam kondisi yang tak bisa dikatakan sehat. Apalagi dengan ketidakpedulian yang dimiliki Fitzgerald Senior sejak lama. Rupanya sedikit banyak ibunya mengerti perasaan pemuda itu. “Ibu akan baik, tentu.”
Pemuda itu menghirup teh-nya beberapa teguk. Berpikir sejenak. “Ya,” ujarnya datar..
Jika itu berarti kebebasanku– why not?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar