Jumat, 18 Februari 2011

My last post as Rhetarox Neale, in IH

Aku dan beberapa temen SMA dulu ikutan forum IndoHogwarts (IH) yang melatih kemampuan menulis kami dalam bentuk RPG dan latar belakang Harry Potter (Hogwarts, London, dan waktunya juga disesuaikan).

Nah, meskipun sekarang aku udah ga main lagi, aku pengen mengabadikan post terakhir aku sebagai Rhetarox Neale (my chara in IH) di blog ini. Hal ini diawali dari iseng2nya aku untuk membongkar2 isi harddisk. Jadilah, ketemu semua draft2 lama aku di sana, hahaha. 

Silakan dibaca, kalo bisa kasih komen ya. :D

A New Day Has Come

Character: Rhetarox Neale
Location: Menara Astronomi
Time: Night in Early Spring (still cold)

 
Hamparan langit hitam bertabur kilau bintang tak lagi memikat hatinya, eh?

Well, seindah-indahnya pesona lukisan Sang Agung malam ini, tidak terbersit niat sedikit pun di hati gadis itu untuk menikmatinya. Meski dia sudah sengaja mendaki tangga-tangga kastil yang tak terhitung lagi jumlahnya itu hingga ke puncak menara. Berdiam diri dalam  ruangan yang hanya disinari cahaya temaram rembulan dari beberapa jendela yang dibiarkan terjulang keluar. Gadis itu duduk di salah satu pojok dengan menyandarkan punggungnya pada dinding ruangan. Lengannya yang mungil memeluk sepasang kaki-nya yang juga mungil tepat di depan dada. Kepalanya ditundukkan dalam-dalam, kelopak matanya menutup. Dia diam. Dan berpikir. Penat otaknya mencerna serangkaian kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Cukup buruk.

Oh, come on!

Jendela terbuka itu memunculkan langit yang sama indahnya seperti yang tampak dari luar sana. Angin malam pun memasuki ruangan tanpa izin hingga menebarkan sensasi dingin yang menggoda jemarinya untuk merapatkan mantel biru tua yang kini dikenakannya. Sudah mulai masuk musim semi, padahal. Namun, udara di sini masih kurang bersahabat. Pengaruh waktu yang sekarang hampir tengah malam– mungkin. Tangannya tergenggam erat, sedikit kebas. Lupa memakai gloves berakibat buruk juga rupanya.

Untungnya, sebuah cahaya hangat segera menyala dari benda yang dari tadi tergeletak di sampingnya, terselebung oleh kotak kaca bening tanpa tutup. Benda itu berupa kristal sebesar kepalan tangan berwarna kemerahan seperti membentuk lidah api. Warna dan udara yang dihasilkan kristal itu berudah-ubah sesuai dengan suhu lingkungan di sekitarnya. Semakin dingin akan memerah dan hangat, semakin panas akan berwarna biru serta sedingin es. Gadis itu membelinya dari sebuah toko antik lewat perantara sang ibu. Dan rencananya, benda itu akan diberikan pada seseorang –yang sangat dia sukai– sebelum hari ini berakhir. Tapi, nampaknya asa itu sudah pupus. Keberaniannya telah lenyap bak ditelan bumi.

Dia. Kelewat. Pengecut.

Kletek Kletek

Bunyi angin memainkan bingkai jendela terdengar begitu jernih. Sebab tak ada suara apa pun di sana. Hening. Bahkan, hampir tak ada tanda kehidupan– kecuali dia, tentunya. Pelan, kepalanya terangkat kembali. Kristal cokelat tua itu menatap bingkai jendela yang terantuk tembok, mengalunkan melodi seirama. Tak berkedip. Pandangannya sedikit nanar. Jauh di lubuk hatinya, dia ingin menjerit. Sangat ingin. Mulutnya yang dari tadi terkatup rapat mulai terbuka. Tenggorokannya memancing sang pita suara ikut bergetar. Melantunkan sebuah lagu yang sedari tadi ingin dinyanyikannya. Sebagai pengharapan agar tidak berlarut-larut memasang tampang murung.

 I was waiting for so long
For a miracle to come
Everyone told me to be strong
Hold on and don’t shed a tear

Rox tahu air matanya tidak boleh tumpah saat ini.

Through the darkness and good times
I knew I’d make it through
And the world thought I had it all
But I was waiting for you

Haha. Menunggu. Cuma itu yang dia bisa. Apa lagi?

Hush, love

I see a light in the sky
Oh, it’s almost blinding me
I can’t believe
I’ve been touched by an angel with love

Cinta. Satu kata yang membuat dirinya buta. Tapi, entah kenapa dia tidak bisa mengusir rasa itu begitu saja. Cukup menikmati, huh?

Let the rain come down and wash away my tears
Let it fill my soul and drown my fears
Let it shatter the walls for a new sun

A new day…

Liriknya. Putus. Tercekat.

Semua memori mendadak berputaran dalam kepalanya. Ingatan yang harusnya terlupakan. Pesta awal tahun, Natal–

Bibirnya bergetar

No. Don’t cry!

Sesak. Dadanya terasa sesak.

….

Kepalanya kembali tertunduk. Bulir-bulir air sejernih embun mengalir dari pelupuk matanya. Terjun bebas. Lama sudah mereka menanti, namun terus saja ditahannya. Kini, gadis itu tak mampu membendungnya lagi. Rasa sakitnya sudah begitu besar sampai terasa amat menyesakkan. Rox menggigit bagian bawah bibirnya. Dia menangis dalam diam. Menelungkupkan wajahnya ke lutut yang ditekuk.

Mulutnya terbuka kembali. Memperdengarkan suaranya yang terisak sempurna. ”Will... a  new day… come… to me ?” tanyanya bodoh. Padahal tak ada orang di sana– jelas.

[OOC: Judul dan lagu (c) Celine dion with A New Day Has Come ]


2 komentar:

  1. ini yg ttg senior jun bukan?

    hihi
    ceileeee, jd inget masah heboh2an IH dulu
    huaaaaah~

    BalasHapus
  2. iyoooo senior jun ryuzawa :D banyak yg nyerching dio pulo =="

    ini post terakhir aku... sedihnyaaa :'(

    BalasHapus